Kamis, 08 Oktober 2009

Purdie E Chandra - Tidak sekolah tapi buka sekolah...

Purdi E. Chandra, Lembaga Pendidikan Primagama:
Sukses Berkat Konsisten Menjaga Citra
Tak perlu mendirikan universitas atau sekolah tinggi untuk sukses di bisnis pendidikan. Anda bisa memulainya dengan mendirikan lembaga kursus kecil-kecilan, dan berharap bernasib seperti Purdi E. Chandra. Anda pasti kenal Lembaga Pendidikan Primagama, yang kini telah beranak-pinak di mana-mana. Nah, lembaga pendidikan yang berbasis di Yogya itu, Purdi pendirinya.
Jangan dikira, lelaki kelahiran Metro, Lampung ini lulusan universitas terkemuka di Amerika Serikat atau Australia. Empat fakultas di perguruan tinggi yang pernah dimasukinya -- Fakultas Psikologi dan Teknik Elektro UGM, serta Fakultas Matematika dan Bahasa Inggris IKIP Negeri Yogyakarta -- tak pernah diselesaikannya hingga suukses sebagai pengusaha. Alasannya, "Saya tak suka berpikir linear." Gelar MBA justru diraihnya dari lembaga pendidikan yang ia dirikan sendiri, selain sarjana ekonomi dari perguruan tinggi khusus eksekutif di Malang, ketika usianya telah mencapai 40 tahun, dan kaya lagi.
Namanya juga nasib baik. Meski gagal kuliah, ia sukses di bisnis pendidikan. Dengan santai ia mengatakan, mungkin nasibnya akan lain, jika saja meneruskan kuliahnya hingga berpredikat sarjana. Kisahnya begini. Miris melihat sistem pendidikan yang dinilainya kurang pas, Purdi bersama Herman Legowo (kini dosen UGM) merasa perlu memberi arti dengan menggarap salah satu tahap pencerdasan bangsa, serta memperbaiki sistem dan kualitas pendidikan. Maka, dijadikannya ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) sebagai awal idealisme tadi, sekaligus celah sempit memasuki dunia bisnis. 10 Maret 1982 atau sejak 19 tahun lalu, bimbingan tes yang kemudian diberi nama Primagama resmi dibuka.
Visi idealisme lain pembukaan bimbingan tes tersebut: Memperbaiki kualitas hidup guru-guru yang saat itu -- bahkan hingga hari ini -- sangat tidak wajar. "Saya prihatin melihat penghasilan seorang guru, yang seyogyanya sama dengan penghasilan pegawai bank," kata Purdi, yang ayahnya lurah di Lampung.
Kendati ia anak lurah, darah wirausahawan mengalir deras dalam tubuhnya, yang diturunkan dari sang ibu yang pedagang. Belum lagi, desakan atas kesulitan biaya kuliah yang sering terlambat datangnya. Tak dinyana, bimbingan belajar bagi calon mahasiswa ini, mendapat sambutan positif. Permintaan terhadap kehadiran lembaga seperti ini, bahkan datang dari luar Yogya, yang tentu saja tak bisa dipenuhi Purdi. Maka, orientasi bisnis mulai berkembang dengan membuka kantor cabang (kancab) di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar Jawa. Permintaan selain dari calon mahasiswa atau orang tua si calon, juga Pemda setempat.
Contohnya, Pemerintah Kota Samarinda yang tampaknya risau atas kualitas pendidikan daerahnya, meminta manajemen Primagama membuka kancab di sana. "Kerjasama semacam itu banyak kami lakukan untuk mengembangkan Primagama di daerah. Meskipun setelah berjalan, kami yang mengelola," Purdi memaparkan.
Primagama kini memiliki 54 kancab, 181 gerai (outlet), dan 17 waralaba di seluruh Indonesia. Setiap tahun, Primagama rata-rata membuka 6 kancab. Terakhir, Primagama membuka 6 kancab dan 12 gerai baru di Jakarta. Rencananya, siap mengepung Jakarta dengan 40 gerai.
Primagama juga berencana menembus negeri jiran Malaysia, yang telah lama mengharapkan kehadiran lembaga ini. "Banyak siswa Malaysia yang ikut UMPTN," kata Purdi. Target bisnis Purdi, menghadirkan lembaga yang dipimpinnya di semua kabupaten se-Indonesia, sekaligus mencetak pengusaha baru yang optimistis tercapai pada 2004. Dengan sistem jaringan yang saling mendukung, tiap gerai -- termasuk di setiap kabupaten -- tidak harus untung.
Jumlah staf pengajar Primagama saat ini mencapai 1.300 orang, termasuk 123 pengajar tetap, dan 600-an pengajar honorer (tidak tetap). Dalam hal jumlah siswa didik, Primagama masih jauh di atas UGM atau UI sebagai representasi perguruan tinggi terbesar di negeri ini. Tak kurang 32 ribu siswa terdaftar di sini setiap tahun.
Pemerintah tampaknya perlu berguru pada Primagama, dalam hal rekrutmen tenaga guru demi perbaikan kualitas. Pasalnya, sistem rekrutmen guru saat ini cenderung menafikkan kualitas. Asalkan lulus dari IKIP, praktis tinggal menunggu pengangkatan sebagai guru. Harus diakui, kualitas pendidikan perguruan tinggi pencetak tenaga guru itu (IKIP) tergolong payah.
Di Primagama, calon tenaga pengajar harus melalui seleksi ketat. Salah satu tahapannya, siswa atau murid bimbingan ikut memberikan penilaian skill dan performa calon staf pengajar. Jika merasa kurang mampu, siswa berhak menolak bimbingan bapak/ibu guru itu. Jika mayoritas siswa mengajukan penolakan, manajemen Primagama terpaksa menonaktifkan sang guru atau staf pengajar. "Penolakan semacam ini, tak mungkin dilakukan pada pendidikan formal," kata Purdi.
Waktu berjalan dan masa bimbingan yang awalnya maksimal dua bulan mulai dirasa kurang, yang dihitung mundur dari jadwal UMPTN. Menurut Primagama, jadwal bimbingan harus ditambah untuk memberi waktu dan bekal yang cukup bagi calon mahasiswa. Maka, waktu bimbingan ditambah menjadi satu tahun. Model bimbingan terbaru Primagama: Masa bimbingan yang dimulai dari tingkat SD dan SMP. Salah satu pertimbangannya, pendidikan pada setiap tingkatan pendidikan formal dinilai tidak cukup membekali anak didik yang akan memasuki perguruan tinggi, khususnya dalam hal meraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) -- prasyarat utama mendapatkan tiket memasuki perguruan tinggi.
Keunggulan Primagama yang sekaligus kiat bertahan di segala kondisi adalah mengembangkan sistem pendidikan atau bimbingan, yang mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, mengambil saripati dari perbedaan materi UMPTN dan materi Ebtanas, ternyata pas dengan kebutuhan siswa. Belakangan, metode seperti ini digunakan pula oleh lembaga pendidikan lainnya. Untuk memproteksi hasil pengembangan mereka, Primagama menggandeng Grasindo menerbitkan buku-buku bimbingan belajar Primagama. Tahun depan, Primagama maju selangkah lagi, dengan mengembangkan jasa bimbingan belajar secara online.
Dari sisi bisnis, Primagama tentunya harus pula memperhitungkan berbagai paradigma dan fenomena yang berkembang. Misalnya, peningkatan kadar profesionalisme manajemen. Sebagai tolok ukur keberhasilan, antara lain meningkatnya jumlah peminat bimbingan setiap tahun. Tiga tahun terakhir, jumlah siswa meningkat dari sekitar 20 ribu menjadi 35 ribu. Sering terjadi kejutan: Siswa yang semula nilainya kurang bagus, belakangan meraih nilai tertinggi di sekolahnya setelah mengikuti bimbingan. Jika dipersentase, angka keberhasilan Primagama berkisar 80% -- salah satunya, terlihat dari peraihan nilai mantan siswanya di sekolah mereka, yang di atas rata-rata.
Staf Primagama pun memperoleh kesempatan berprestasi dan imbalan yang sepadan. Namun, hal ini tidak mudah diraih, sebab kualitas bimbingan mereka dinilai siswa lewat angket pada setiap catur wulan. Bagi pengajar yang mendapat nilai A dari siswa, mendapat bonus 20 kali jam mengajar, serta 15 kali jam mengajar bagi yang mendapat nilai B. Ada pula bonus khusus berupa ibadah haji gratis -- Primagama telah memberangkatkan 20 stafnya naik haji. Untuk kepentingan siswa, juga diberikan asuransi setiap siswa selama belajar di Primagama.
Bagus di pusat, tentu saja juga harus bagus di daerah atau kancab. Agar kualitas produk terjaga, pengawasan dari pusat sangat diperhatikan. Seluruh kancab dipantau Tim Pengendali Mutu Akademik di Kantor Pusat Yogya. Pengembangan tiap kancab menggunakan local area network dan intranet, agar lebih efisien dalam pemantauan. Bahkan, untuk menjaga kualitas, awalnya tenaga pengajar dari kantor pusat diterjunkan ke daerah. Evaluasi tahunan pun dilakukan, untuk melihat berbagai aspek yang perlu mendapatkan pembenahan, jangka pendek maupun jangka panjang.
Merasa Primagama telah mampu eksis, tanpa dirinya terlalu banyak ikut campur lagi, Purdi berekspansi usaha dengan membuka pendidikan formal seperti akademi untuk ilmu komputer, dan sekolah tinggi ekonomi dan bahasa. Seperti halnya Primagama, lembaga ini nantinya dibiakkan di berbagai daerah.
Kunci keberhasilan lembaga pendidikan ini, menurut Purdi, pertama, kesungguhan pengelolanya. Kedua, kuatnya citra nama/merek Primagama sebagai lembaga bimbingan belajar. Untuk poin kedua ini, Purdi bahkan tak tanggung-tanggung memakai jasa Rano Karno sebagai spoke person. Ketiga, kepercayaan yang tinggi dari semua elemen pendidikan -- siswa dan orang tuanya, guru, sekolah, pemerintah, perusahaan dan masyarakat -- terhadap kualitas yang diberikan. Tak heran, jika Primagama menguasai 40% pasar bimbingan belajar di 105 kota. Primagama juga menerapkan SMART Solution yakni Simple, Mind (mudah diingat), Applicative, Rational (logika) dan Tactics (siasat).
Sangat wajar, jika hidup Purdi kini bahagia bersama istri dan seorang anaknya. Anggota MPR-RI dari Fraksi Utusan Daerah ini, memang memulainya dari bawah, bawah sekali.
Alamat : Jl. Diponegoro No. 89, Yogyakarta 55231. Telepon (0274) 520481, 520419. Faksimil : (0274) 521482. E-mail : infoprima@primagama.co.id. Website : www.primagama.co.id.

1 komentar:

AMISHA mengatakan...


Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut