Koperasi Jembatan Kesejahteraan: Berkah atas Kepedulian terhadap Kaum Lemah
Herning Banirestu
Satu lagi bukti bahwa menolong orang yang menderita, sungguh tak ada ruginya. Sebaliknya, perbuatan demikian justru mendatangkan berkah berlimpah. Inilah yang dialami Koperasi Jembatan Kesejahteraan.
Ihwal kelahiran koperasi tersebut, begini ceritanya. Ketika badai krisis mengamuk pada 1997, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat lapisan bawah. Tergerak menyaksikan penderitaan mereka -- yang tak lain saudara-saudara kita juga -- Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) menggelar kegiatan sosial lewat Warung Peduli. Kegiatan utama program sosial yang diprakarsai Andi Rallie Siregar (Presdir RCTI waktu itu), Laode Budi Utama dan Taufik Aljufri ini adalah mendistribusikan barang-barang murah ke warung-warung sekitar RCTI, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Barang-barang tersebut merupakan hasil barter iklan RCTI. Warung Peduli merupakan kelanjutan kegiatan sosial yang telah dirintis setahun sebelum krisis meledak, 1996.
Setelah berjalan 1,5 tahun, hingga akhir 1997, kegiatan itu dievaluasi, ternyata layak jika dikembangkan ke format bisnis. Maka, dibentuklah Koperasi Jembatan Kesejahteraan -- belakangan akrab disebut JK saja -- pada 8 Januari 1998. Selama tahun itu, JK berjuang di tengah gempuran krisis dan banyaknya penjarahan. Namun, di tengah kesulitan, JK justru berhasil membuka tiga depo tambahan dan menambah armada distribusi hingga mampu menjangkau seluruh Jabotabek dan karyawan yang jumlahnya 200 orang. JK boleh dibilang masuk arena di saat yang tepat. Ketika jalur distribusi barang-barang tidak lancar akibat krisis, JK tampil untuk membenahinya.
Sejalan dengan berkembangnya JK, profesionalisme pun makin digalakkan, antara lain dengan melakukan perubahan manajemen. Laode Budi Utama, yang ketika itu masih berstatus sebagai pegawai RCTI, pada 1998 diangkat sebagai Pimpinan Operasional JK. Selanjutnya dia yang secara penuh mengelola JK. Pada saat yang sama, masuklah para profesional lain untuk membantu pengembangan koperasi tersebut, misalnya Rahmat Mulyana yang bertindak selaku Manajer Senior JK.
Pembenahan terus dilakukan, hingga pada pertengahan 1999 dibentuk unit khusus, yaitu JK Pembiayaan. Unit ini merupakan lembaga keuangan di bawah JK yang memberikan kredit usaha bagi para pengusaha kecil yang membutuhkan. Pertimbangannnya, beratnya beban krisis membuat banyak warung yang dilayani oleh JK kerepotan dan menunggak pembayarannya. JK melihat adanya kebutuhan kredit yang besar waktu itu. Akhirnya, diputuskan untuk memisahkan unit pembiayaan dari unit pengadaan barang. Maksudnya, agar manajemen cash flow-nya bisa lebih jelas. Ketika itu JK memang sempat kesulitan memikirkan jalan keluar untuk menjalankan unit pembiayaan itu.
Kisruhnya program Jaring Pengaman Sosial (JPS) justru menjadi jalan keluarnya. Kantor Menko Kesra dan Taskin tertarik mengucurkan dana Taskinnya untuk mendukung program JK ini. Dikucurkanlah dana sebesar Rp 18 miliar dalam dua tahap. Programnya disebut Pembiayaan JK Taskin. Targetnya untuk membiayai warung-warung tradisional dengan kredit barang. Maksimum dana yang diberikan Rp 3 juta/nasabah. Kebetulan, banyak profesional yang baru bergabung dengan JK berlatar belakang perbankan, terutama BPR. Dengan begitu, penyaluran kredit dibuat secara transparan, misalnya diiklankan di berbagai media massa. Penerima kredit dan aksesnya pun jelas, administrasi simpel, tanpa jaminan tapi tetap aman. JK antara lain dipercaya oleh Bank DKI untuk penyaluran kredit mikro ini. Program-program JK di bidang pembiayaan ini dinilai bagus oleh Instat Consultant di antara program Taskin lainnya.
Sejak saat itu, JK mulai bisa bernapas karena modal kerjanya ditopang Pemerintah, khususnya untuk penyaluran kredit ke warung-warung tradisional. Dengan demikian, JK bisa fokus pada pengembangan bisnis berikutnya. Melihat kemungkinan akan terdesaknya warung tradisional oleh agresifnya ritel modern, JK terdorong membuat model bisnis untuk ritel modern. Dari sanalah, sejak awal 2000 JK mencanangkan 3 kompetensi bisnisnya, yakni: Distribusi, Ritel dan Pembiayaan Mikro.
Di balik semua itu, fokus JK sesungguhnya bagaimana "memadatkan" teknologi. Dalam arti luas, fokus ini menyangkut branding, manajemen proses, aplikasi komputer dan sebagainya, kemudian menyajikannya dalam bentuk yang sudah jadi kepada masyarakat. Itu sebabnya, Divisi Distribusi menawarkan kerjasama grosir dengan format bagi hasil yang dihitung berdasarkan keuntungan bersih terhadap penyertaan masing-masing pihak, kontrak manajemen (JK menyediakan sistem, dukungan pasokan barang dagangan dan proses manjemen serta evaluasi gerai ritel) serta kerjasama pasokan barang. Divisi Ritel menawarkan sistem waralaba Warung Modern JK 100%, kontrak manajemen bidang ritel, kerjasama bagi hasil (sesuai kontribusi) serta kerjasama pasokan barang. Adapun Divisi Pembiayaan Mikrto menawarkan kerjasama penyaluran kredit (lending service).
Dari tahun ke tahun, kinerja keuangan JK terus meningkat secara mengesankan. Pada 1998 omsetnya Rp 12 miliar, meningkat menjadi Rp 24 milyar pada 1999 dan Rp 59 miliar pada akhir 2000. Penyumbang paling besar terhadap omset JK adalah Divisi Distribusi. Namun, kalau dilihat dari segi profitnya, Divisi Pembiayaan Mikro-lah yang paling signifikan. Hal ini karena Divisi Distribusi membutuhkan investasi yang besar, tapi return-nya agak lama. Namun, pengalaman yang cukup lama di bidang distribusi membuat JK mulai dipercaya oleh para sumber barang (pabrikan) untuk mendistribusikan produk mereka. Selain itu, pengalaman, kemampuan mendistribusikan barang serta sistem yang dimiliki JK telah mendorongnya menawari pihak lain mendirikan grosir dan ritel.
Filosofi JK adalah "meragukan segalanya", yang berarti mereka selalu mengevaluasi setiap langkah yang sudah dilakukan. Dengan begitu, mereka terus-menerus melakukan perubahan dengan mengonversi bisnisnya. Pada 2000 program JK hanya mendistribusikan barang dan uang (loan). Agar hubungan kerjasama dengan para mitranya lebih sistematis, mulai 2001 yang dijual JK adalah sistem atau bisnis modelnya. "Kami bukan lagi menjual barang, tapi model bisnis," kata Laode. Model bisnis yang ditawarkan di antaranya Kerjasama Penyaluran Pembiayaan, Warung Modern JK 100%, JK Grosir dan Total JK.
Dalam perkembangannya, ternyata yang datang untuk bekerjasama dengan JK bukan lagi perorangan tapi institusi. Misalnya, sebuah institusi ingin membuka 50 gerai Warung Modern JK 100% atau ingin diputar dananya untuk komoditas tertentu. Hal ini mendorong JK mempercepat program bisnisnya hingga 2002. "Pendekatannya sudah investor," ujarnya. Maka, pada 2002 bisnis JK dikonversi dengan bertumpu pada pengembangan SDM dan investor/funding management. Dalam kata lain, SDM adalah kunci bisnis JK berikutnya dengan menyediakan tenaga pengelola. Beberapa institusi yang sudah bekerjasama dengan JK adalah Induk Koperasi RTMM (rokok, tembakau, makanan dan minuman), Nahdlatul Ulama, Inkop Syariah (MUI), Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan, Koperasi Elnusa, Waserda Jaya dan Koperasi Indosat.
Bervisi menciptakan jaringan bisnis berteknologi mutakhir dan jadi andalan masyarakat dalam pengembangan ekonomi, JK melihat nilai ekonomi terletak pada produk padat pengetahuan. Koperasi JK menilai saat ini eranya knowledge based. Maka, knowledge management di koperasi tersebut sudah dilakukan melalui penerapan lotus notes.
Selanjutnya, komitmen untuk memperdalam kompetensi pada sistem bisnis yang padat pengetahuan terhadap usaha rakyat melahirkan technology for the people. Tak heran jika sistem informasi manajemen JK sudah dikembangkan sejak awal. "Kami juga sedang dalam persiapan e-commerce. Saat ini kami sedang membenahi situs yang ada, www.jknet-online.com," kata Laode.
Kini JK mengelola 18 grosir milik sendiri maupun aliansi, 11 warung modern dan ribuan penerima kredit mikro. Pada akhir 2001 diharapkan sudah mengoperasikan 50 grosir, 25 warung modern dan tambahan ribuan penerima kredit mikro baru. Cakupan areanya meliputi Jabotabek, Sukabumi, Purwakarta, Bandung, Semarang dan Kudus. Selain itu, JK juga terus membenahi strategi dan proses bisnisnya dengan menggunakan konsep atau tren bisnis baru, seiring misi JK dalam mengembangkan ekonomi yang berbasis kepemilikan masyarakat.
Alamat : Jl. Panjang No. 10, Kebon Jeruk, Jakarta 11530. Telepon : (021) 53671753, 53670675, 53676894, 3676895, Faksimil : (021) 53676892. Website: www.jknet-online.com.
1 komentar:
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut
Posting Komentar